Tanya Jawab: Fenomena alam

UMUR BINTANG
Tanya: Saya suka astronomi dan sering terpesona kala malam melihat taburan bintang di
langit. Saya pernah baca di majalah ini bahwa sinar yang sampai ke Bumi itu dipancarkan
berjuta‐juta tahun lampau. Yang mau saya tanyakan, berapa lama sih umur bintang? (Rini Tri
Laksini, di Surabaya)
Jawab: Umur bintang bervariasi tergantung pada beratnya, dari lima juta tahun (untuk bintang
yang massanya sekitar 30 kali massa Matahari) hingga 30 miliar tahun (untuk bintang yang
massanya 0,5 kali massa Matahari). Matahari (salah satu bintang) dapat mencapai 10 miliar
tahun.
Matahari hidup karena pembakaran gas hidrogen yang dimilikinya. Menjelang kematiannya
terjadi pembakaran hidrogen besar‐besaran akibat radiasi yang ditim‐bulkannya, Matahari akan
mengembang menjadi raksasa merah (red giant) yang besar sekali (sekitar 10 kali lipat dari
ukuran sekarang).
Setelah pengaruh radiasi menurun, pengaruh gravitasi inti Matahari menjadi dominan. Gravitasi
ini membuat ukuran matahari mengecil dan menjadi bintang bajang putih (white dwarf). Tetapi
jangan khawatir, masih dibutuhkan lima miliar tahun lagi untuk terjadi hal ini
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
ARAH ROTASI BUMI
Tanya: Bapak Yohanes Surya, saya ingin mendapat penjelasan mengenai arah rotasi Bumi bila
diukur dari sumbu imajiner Bumi. Gambaran yang saya tangkap selama ini sangat mungkin
keliru sebagaimana saya berpikir bahwa arah rotasi Bumi adalah seperti bagaimana Bumi
berotasi lewat penggambaran model globe yang banyak dijumpai. Apakah rotasinya memang
seperti itu (dari arah kiri ke kanan, atau sebaliknya)? Padahal saya berpikir, mungkin ada juga
kemungkinan bahwa sumbu imajiner yang menjadi poros rotasi Bumi itu jauh berbeda dengan
penggambaran globe. Apa mungkin Bumi berotasi dengan arah yang sama sekali tidak
berpola? Jadi, bisa saja arah rotasinya ke segala arah? Terima kasih atas penjelasannya. (Surya
Aji, di Yogyakarta)
Jawab: Ada dua jenis gerakan Bumi, yaitu revolusi Bumi mengelilingi Matahari dan rotasi Bumi
mengelilingi dirinya sendiri. Bumi berotasi dari barat ke timur. Buktinya, kita melihat Matahari
terbit di timur dan terbenam di barat. Sumbu rotasi Bumi (sumbu imajiner Bumi) membentuk
sudut 23,50 terhadap sumbu revolusinya. Sudut ini hampir tidak berubah. Buktinya, kutub utara
Bumi selalu mengarah ke satu arah yaitu ke arah bintang utara.
Miringnya sumbu rotasi ini dibuktikan dengan adanya empat musim di belahan Bumi utara dan
selatan. Ketika kemiringannya mengarah ke Matahari, di belahan Bumi utara yang mendapat
lebih banyak sinar Matahari terjadi musim panas. Sebaliknya, di belahan Bumi selatan terjadi
musim dingin. Di daerah kutub utara tidak ada malam (terang terus sepanjang hari), sebaliknya
di daerah kutub selatan tidak ada siang (gelap terus sepanjang hari). Ketika kemiringannya
menjauhi Matahari, terjadi musim dingin di utara dan musim panas di selatan. Di antara kedua
posisi itu terjadi musim semi dan musim gugur. Jika sumbu rotasi Bumi berubah‐ubah, maka
bisa terjadi kekacauan musim. Bisa terjadi bulan ini di Indonesia Matahari bersinar sepanjang
hari, bulan depan Matahari tidak terlihat sama sekali. Kehidupan manusia bisa kacau
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
MANUSIA MENGINJAK BULAN?
Tanya: Selama ini saya termasuk orang yang kagum akan keberadaan pesawat luar angkasa,
astronot, dan semua orang pintar yang ikut ambil bagian dalam pekerjaan menakjubkan itu.
Namun, beberapa saat yang lalu timbul keraguan dalam diri saya setelah menonton sebuah
acara TV (”Conspiracy Theory: Did We Land on the Moon?”).
Dalam acara itu, dengan keterangan dan bukti‐bukti yang sungguh meyakinkan, para ahli
konspirasi menjungkirbalikkan kenyataan bahwa pesawat Apollo 11 beserta awaknya pernah
mendarat di Bulan sebagaimana telah diketahui oleh sebagian besar manusia di muka Bumi
(yang pernah bersekolah). Ironisnya, hal itu telanjur menjadi kebenaran di pikiran mereka.
Salah satu bukti yang dikemukakan adalah tentang adanya suatu lapisan gas di orbit Bumi yang
mustahil untuk dilewati karena pernah ada kosmonot Rusia yang celaka saat berusaha
melewatinya. Itulah alasan mengapa Rusia kemudian tidak melanjutkan misi mengirim manusia
ke Bulan.
Yang menjadi pertanyaan saya, benarkah teori konspirasi bahwa pendaratan di Bulan itu
hanyalah akal‐akalan NASA? (Herliando Ferdinand, Pati)
Jawab: Dalam tayangan TV tadi beberapa kesimpulan yang diambil kurang tepat. Misalnya:
a. Karena tidak melihat adanya bintang pada foto, maka mereka anggap foto para astronot itu
palsu. Ini tidak benar. Kalau kita mau mengambil foto seseorang, maka fokusnya harus pada
orang tersebut. Bintang‐bintang yang suram dan jauh tidak akan terlihat dalam foto karena
tidak terfokus.
b. Karena melihat bendera berkibar, mereka menyimpulkan bahwa kibaran bendera adalah
akibat adanya udara, sehingga mereka anggap foto ini palsu (di Bulan tidak ada udara). Ini juga
kesimpulan yang salah. Untuk menancapkan bendera biasanya kita harus memutar batang
bendera ke kiri dan ke kanan berulang‐ulang dan ini akan menyebabkan bendera berkibar
(secara fisika ini disebabkan karena kekekalan momentum sudut). Karena di Bulan tidak ada
udara, maka tidak ada gesekan yang menghambat kibaran bendera sehingga kibaran bendera
ini akan lama berhenti sehingga dapat terekam dalam gambar.
Sebenarnya, pendaratan manusia di Bulan adalah suatu fakta yang sudah tidak bisa dibantah.
Antara tahun 1969 ‐ 1972 sudah ada 12 astronot mendarat di Bulan dan sembilan kembali
memberi kesaksian dengan membawa sekitar 400 kg batuan bulan. Batu‐batu itu tersimpan di
berbagai museum. Batu tersebut tidak mungkin palsu karena batuan Bulan sangat khusus. Di
dalamnya tidak terdapat air seperti yang dimiliki batuan Bumi. Menurut para ilmuwan di bidang
batu‐batuan, sangat sulit untuk membuat batu‐batuan Bulan. Lebih mudah pergi ke Bulan
untuk mengambil batuan itu ketimbang harus membuatnya. Ada situs yang bagus yang
membahas tentang hal ini, yaitu
http://www.badastronomy.com/bad/tv/foxapollo.htm
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
HUJAN ES DI NEGARA TROPIS
Tanya: Sepertinya ini pengalaman pertama saya. Waktu itu, sekitar bulan Januari 2004, ketika
sedang asyik menonton televisi di siang hari, tiba‐tiba hujan deras mengguyur kawasan tempat
tinggal saya. Sayup‐sayup saya mendengar ada benda keras jatuh menimpa atap plastik
carport rumah saya. Karena penasaran, saya keluar dan betapa terkejutnya melihat butiranbutiran
es jatuh dari langit. Yang menjadi pertanyan saya, apa yang menyebabkan hujan es
tadi? Terima kasih atas jawaban yang Bapak berikan. (Abrienda Kinad Ri, di Jakarta)
Jawab: Hujan butiran es biasa terjadi ketika ada badai. Awan‐awan badai terdiri atas
campuran air dan kristal salju. Ketika kristal salju jatuh dari bagian atas awan ke bagian
bawahnya, kristal ini akan bercampur dengan air membentuk butiran es. Akibat badai,
sebagian butiran es ini ada yang naik kembali kebagian atas awan.
Ketika butiran ini turun kembali, butiran akan membawa air dan membekukannya
sehingga terbentuk butiran es yang lebih besar. Setelah cukup besar butiran‐butiran es
ini akan turun ke Bumi sebagai hujan es (hail). Di beberapa tempat butiran es ini ada
yang sebesar telur ayam.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
BIRUNYA LANGIT, HITAMNYA MENDUNG
Tanya: Terus terang, saya senang dengan adanya rubrik "Fenomena". Ada banyak hal yang
membuat saya penasaran yang bagi Pak Yohanes mungkin sesuatu yang biasa.
Beberapa kali saya menyaksikan gunung yang puncaknya seperti menembus atau mencapai
langit. Sepertinya langit menjadi dekat. Pertanyaan saya, apa yang disebut langit? Apakah
seperti yang selama ini saya lihat, berwarna biru karena terpantul warna laut? Di mana langit
itu berada, apakah termasuk luar angkasa? Apakah pesawat terbang yang menembus awan
sampai ke langit juga?
Satu lagi, kenapa mendung di siang hari tampak gelap, tapi di malam hari kok tampak putih?
Terima kasih atas kesediaannya menjawab. (Ayik, di Magelang, dan Nani Amani, di Solo)
Jawab: Menurut definisi, langit (sky) adalah lapisan atmosfer. Ada definisi lain yang menyatakan
bahwa langit adalah ruang (space) yang berada di atas kita. Nah, jadinya warna langit sangat
tergantung pada tempat kita berada.
Di Bumi langit terlihat berwarna biru karena atmosfer Bumi banyak mengandung nitrogen dan
oksigen yang menghamburkan lebih banyak cahaya biru. Di Mars langit agak oranye keabuabuan.
Ini akibat hamburan debu‐debu yang banyak terdapat di atmosfer Mars. Di Bulan langit
terlihat hitam karena atmosfer Bulan tidak memiliki banyak partikel.
Pesawat yang menembus awan tidak menembus langit. Ketika naik pesawat, di atas awan kita
masih bisa melihat langit yang berwarna kebiruan. Inilah yang menurunkan peribahasa "Di atas
langit masih ada langit".
Sedangkan awan mendung terdiri dari partikel‐partikel air berukuran besar. Partikel ini banyak
menyerap cahaya yang datang sehingga awan mendung terlihat gelap.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
______________VENUS HILANG AKIBAT REVOLUSI
Tanya: Dulu, ketika masih sekolah, saya mendapat penjelasan bahwa Bumi dan planetplanet
lain dalam tata surya mengedari Matahari dengan masa revolusi yang berbedabeda.
Waktu itu saya yas‐yes saja. Kini saya meragukannya.
Bila benar masa revolusi planet berbeda‐beda, tentunya suatu saat Venus dan Mars
tidak akan terlihat dari Bumi. Kenyataannya, dari nenek moyang kita hingga kini
posisinya ya tetap di situ‐situ saja. Juga bintang "gubug penceng", kenapa posisi dan
jaraknya dari kita terlihat tetap saja? Tolong beri penjelasan dengan gambar ya, Prof.!
Terima kasih. (Winarto, di Kediri)
Jawab: Semoga setelah membaca ini jangan yas‐yes lagi ya Win! Tapi, yes! dengan
menggerakkan tangan yang dikepal ke bawah. He‐he‐he ....
Memang benar planet‐planet mengelilingi Matahari dengan periode (masa revolusi)
yang berbeda. Dari hasil penelitian, periode Bumi adalah satu tahun, Venus 0,62 tahun,
dan Mars 1,88 tahun. Perbedaan ini disebabkan perbedaan gaya tarik gravitasi Matahari
yang dialami oleh planet tersebut. Semakin jauh dari Matahari, semakin kecil
gravitasinya. Menurut Kepler, perbedaan gaya gravitasi menyebabkan kuadrat periode
suatu planet sebanding dengan jarak dari Matahari pangkat tiga (T2 sebanding dengan
R3).
Jadi, bisa saja suatu saat Venus tidak terlihat dari Bumi karena terhalang oleh Matahari.
Namun, ada kalanya juga Venus menghalangi pandangan kita dari Matahari. Inilah yang
disebut transit Venus yang terjadi pada 8 Juni 2004 lalu (transit berikutnya 6 Juni 2012).
Pada kejadian itu Venus bergerak di antara Bumi dan Matahari. Venus terlihat sebagai
bayangan (titik) gelap di cakram Matahari selama beberapa menit (lihat gambar). Transit Venus
menunjukkan bahwa kecepatan atau masa revolusi Venus berbeda dengan kecepatan atau
masa revolusi Bumi.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
Sembilan Tahun Belum Lahir Juga
Tanya: Menjumpai Prof. Yohanes di rubrik ”Fenomena”. Saya pernah mendengar, jika
seseorang yang memiliki saudara kembar mengadakan perjalanan ke luar angkasa, maka
ketika ia kembali ke Bumi, usianya akan lebih muda daripada saudara kembarnya yang tetap
tinggal di Bumi.
Yang menjadi pertanyaan saya, bagaimana jika seseorang yang tengah hamil pergi ke luar
angkasa? Apakah ada kemungkinan kehamilannya akan lebih lama dibandingkan dengan usia
kehamilan biasa. Bagaimana dengan pertumbuhan bayi yang dikandung jika ia mengadakan
perjalanan tersebut?
Terima kasih. (Ardien Susilowati, lewat surat elektronik)
Jawab: Menurut teori relativitas Einstein, mereka yang bergerak dengan kecepatan tinggi sekali
(mendekati kecepatan cahaya) akan mengalami dilasi waktu. Artinya, semua hal yang
berhubungan dengan waktu mengalami pemuluran. Proses metabolisme sel lebih lama, prosesproses
penuaan juga berlangsung lebih lambat. Akibatnya, orang yang melakukan perjalanan ke
luar angkasa ini akan terlihat lebih muda dibandingkan dengan mereka yang tinggal di Bumi.
Bagaimana dengan orang yang sedang hamil? Untuk orang hamil proses kehamilan akan
bertambah lama dan pertumbuhan bayi akan sangat lambat. Bisa saja masa kehamilan
sembilan bulan menurut orang di pesawat akan sama dengan sembilan tahun menurut orang
yang di Bumi.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
Daratan Tambahan Akibat Gempa
Tanya: Sejak terjadinya gempa tektonik dengan kekuatan 6,7 pada skala Richter, 4 Mei 2004,
yang lalu, di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah tersisa fenomena alam yang luar
biasa. Saat ini di sebuah kecamatan yang terletak di pinggiran pantai ada lima desa yang lebar
pantainya mengalami pertambahan ekstrem. Radius penambahan area pantai ini sekitar 30 ‐
50 m dari garis pantai sebelum terjadinya gempa. Bahkan, sekarang area itu sudah ditumbuhi
rumput dan bisa ditanami. Padahal dulunya merupakan daerah pasang dengan kedalaman 1 ‐ 2
m. Yang menjadi pertanyaan:
a. Apakah ini disebabkan daya endogen Bumi?
b. Banyak penduduk yang mendirikan rumah di atas pantai jelmaan ini. Apakah tidak
berbahaya jika
sewaktu‐waktu terjadi laut pasang tiba‐tiba?
c. Apakah daratan ini akan konstan, atau pada periode tertentu akan menjadi daerah pasang
kembali?
Terima kasih. (Rahmat Lasibani, di Banggai)
Jawab: Berdasarkan teori lempeng benua, Bumi kita terdiri atas tujuh lempeng raksasa dan
sekitar 13 lempeng yang lebih kecil. Lempeng ini tebalnya bisa mencapai 100 km. Lempenglempeng
ini terus bergerak dengan kecepatan antara 2 ‐ 20 cm/tahun.
Ketika lempeng‐lempeng ini bertumbukan, terjadilah gempa bumi. Di sekitar garis tumbukan,
akibat perbedaan massa jenis, satu lempeng masuk ke bawah lempeng yang lain. Lempeng yang
jatuh juga menyebabkan lempeng yang lain terseret sehingga bentuknya melengkung.
Akibat lengkungan ini, terjadilah penambahan garis pantai. Lengkungan ini makin lama makin
tajam dan setelah beberapa waktu (katakan 100 tahun), seperti sebuah penggaris yang
dilengkungkan, lempeng yang melengkung akan berusaha melentur kembali, dan
mengakibatkan terjadinya gempa lagi. Saat itu garis pantai akan berkurang, air akan masuk lagi
ke daratan dalam gelombang yang besar (tsunami). Berhati‐hatilah.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
MENGAPA FOSIL PERLU DIGALI?
Tanya: Pak Yo yang terhormat. Saya sering bertanya‐tanya, apakah bola Bumi kita ini dari
waktu ke waktu bertambah besar. Kenyataannya, benda purbakala, situs‐situs kuno, fosil
hewan purba, dan hal‐hal yang berasal dari masa lampau selalu ditemukan dengan penggalian.
Fosil yang lebih tua ditemukan pada lapisan tanah yang lebih bawah.
Berarti, lapisan tanah tempat ditemukannya benda‐benda itu dulunya adalah permukaan tanah
yang jauh di atas mereka. Nah, timbunan tanah inilah yang saya pikir akan memperbesar
ukuran bola Bumi.
Mengapa benda‐benda kuno selalu ditemukan tertimbun? Apa karena letusan gunung berapi?
Bagaimana yang sebenarnya terjadi?
Mohon penjelasannya dan terima kasih. (Basuki, di Yogyakarta)
Jawab: Ada banyak sebab benda‐benda purbakala atau fosil terkubur. Ada yang sengaja
dikubur oleh pemiliknya (misalnya, benda di kuburan‐kuburan kuno). Ada juga yang tertimbun
tanah (tanah ini bisa berasal dari gunung meletus, dari binatang atau tumbuhan yang
membusuk, ataupun dari kikisan batuan atau tanah yang terbawa angin atau air). Dalam jangka
waktu lama, timbunan tanah ini makin lama makin tebal dan membentuk lapisan‐lapisan (ini
yang menyebabkan fosil yang lebih tua berada ditempat yang lebih bawah). Jadi, kurang tepat
kalau mengatakan bola Bumi kita makin lama makin besar.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
GRAVITASI MENAHAN AIR LAUT
Tanya: Prof. Yohanes yang saya kagumi, langsung saja ya, Pak. Saya ingin menanyakan
mengapa air laut itu tidak tumpah padahal Bumi itu 'kan bentuknya bulat. Sedangkan kita tahu,
2/3 bagian dari Bumi adalah lautan. Kalau karena gaya gravitasi, bagaimana mekanisme
kerjanya?
Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih. Semoga sukses selalu untuk Bapak. (Ilfa, ST, di
Belitung)
Jawab: Ambil segelas air. Mengapa air dalam gelas tidak tumpah? Karena ada pembatasnya dan
karena ada gravitasi Bumi yang membuat air tidak melayang. Hal yang sama terjadi untuk air
laut. Bumi kita bulat dan berlapis‐lapis. Di permukaan Bumi terdapat lapisan kerak Bumi
(litosfer) yang tebalnya antara 0 ‐ 100 km (sangat kecil dibandingkan dengan jari‐jari Bumi yang
sekitar 6.400 km). Kerak Bumi kita terdiri atas daratan dan lautan. Daratan itu seperti dinding
gelas yang mewadahi air laut, mencegah air laut tidak tumpah. Air laut ini sendiri mendapat
tarikan gravitasi dari lapisan di bagian dalam Bumi (lapisan selubung dan lapisan inti).
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
______________MANA ARAH TIMUR YA?
Tanya: Saat berada di suatu tempat yang baru dikunjungi, hampir sebagian besar orang
bingung mengetahui arah mata angin yang benar. Kebingungan ini biasanya lama (abadi).
Tempat yang menimbulkan kebingungan ini berbeda untuk setiap orang. Kalau si Jonny di sini
bingung, si Roby tidak, dan sebaliknya. Bagaimana penjelasan mengenai hal ini? Apakah bisa
dinormalkan untuk yang terkena kasus ini? Kalau bisa bagaimana caranya? Terima kasih.
(Mujiyono, di Jakarta)
Jawab: Gejala yang Anda sebutkan mungkin dapat dikategorikan sebagai geographic
disorientation. Ini gejala psikologis yang disebabkan adanya perubahan di bagian telinga dalam.
Bagian dalam telinga kita seperti sebuah giroskop yang mendeteksi perubahan sekitar kita
seperti perubahan ketinggian, perubahan kemiringan tempat, ataupun perubahan kecepatan
ketika kita berubah arah. Saat berpindah dari satu tempat ke tempat lain, jika tidak disertai
dengan perubahan visual (misalnya mata kita tertutup atau kita berada dalam mobil tertutup),
kita akan bingung dengan lokasi kita.
Geographic disorientation banyak dialami oleh para pilot pesawat terbang terutama ketika
cuaca buruk. Banyak pesawat terbang mengalami kecelakaan karena pilotnya mengalami
disorientasi macam ini. "Kelainan" ini tidak bisa diobati, tetapi bisa dikurangi efek negatifnya.
Misalnya, dengan membawa alat penunjuk arah yang tepat seperti kompas, dan sebagainya.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
KENAPA TAK ADA PELANGI SEGI EMPAT?
Tanya: Halo Profesor Yo? Apa kabar? Meski bulan sudah Juni, tapi hujan masih mau turun juga.
Sehubungan dengan hujan, saya jadi teringat akan pertanyaan yang masih menggantung di
benak saya. Mengapa pelangi yang tampak (biasanya muncul setelah hujan reda) selalu
berbentuk melingkar atau setengah lingkaran? Mengapa tidak memilih bentuk lain saja seperti
segitiga atau persegi empat begitu? Saya pernah melihat pelangi yang tampak di sekitar air
terjun berbentuk lingkaran.
Jangan ditertawakan ya pertanyaan saya ini Prof.! (Obeth, di Yogyakarta)
Jawab: He‐he‐he .... Saya tertawa bukan karena pertanyaannya tapi karena larangannya itu lo!
Oke, tak usah diperpanjang tertawanya, nanti jadi lupa menjawab pertanyaan Obeth yang
katanya masih menggantung.
Memang benar, pelangi biasa terjadi sehabis hujan. Sebab, sehabis hujan di udara banyak sekali
tetes‐tetes air yang berbentuk bulat. Ketika mengenai tetes air ini, cahaya Matahari akan
dibiaskan masuk ke dalam tetes. Di dalam tetes air, cahaya dipantulkan kemudian dibiaskan
keluar dari tetes. Selama proses pembiasan, cahaya Matahari akan terurai menjadi berbagai
warna. Itu sebabnya sinar yang keluar dari tetes air itu berwarna‐warni.
Soal bentuk yang dipilih yakni busur, ada dua alasan. Yang pertama, tetes air berbentuk bulat.
Bulatnya tetes air menyebabkan arah sinar biasnya tetap sama, bagaimana pun letak (orientasi)
tetes air ini. Kedua, cahaya yang masuk ke dalam tetes air dibiaskan dengan sudut tertentu.
Sinar yang dibiaskan dengan sudut terlalu besar atau terlalu kecil tidak dapat dilihat oleh mata.
Akibatnya, sinar‐sinar bias yang tertangkap oleh mata terlihat seperti sebuah pita berwarnawarni
yang melengkung.
Bagaimana, sekarang pertanyaan sudah jatuh dari benak belum? He‐he‐he
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
DI BALIK WARNA AWAN
Tanya: Terima kasih atas adanya rubrik "Fenomena" ini. Beberapa hal yang dulunya tidak kita
ketahui menjadi jelas berkat rubrik ini.
Saya tertarik dengan salah satu fenomena alam, yakni awan. Setahu saya, awan memiliki
berbagai bentuk dan setiap jenis dibedakan berdasarkan ketinggian. Yang menarik adalah
bagaimana proses awalnya sehingga bisa terbentuk jenis‐jenis yang berbeda? Mengapa ada
awan yang mengandung hujan dan mengapa ada yang tidak?
Atas jawaban yang diberikan, saya ucapkan terima kasih. Bravo juga buat Intisari. (Rulli H., di
Pontianak)
Jawab: Saya juga mengucapkan terima kasih jika jawaban‐jawaban yang saya berikan bisa
memperjelas persoalan.
Soal awan, harus dipahami dulu bahwa awan adalah sekumpulan tetes‐tetes air, salju, atau
kristal es di angkasa. Partikel yang dimiliki dan ketinggian awan akan sangat mempengaruhi
bentuk, jenis, dan warna awan.
Awan yang letaknya di atas 6.000 m terdiri atas kristal‐kristal es. Kristal‐kristal ini terbentuk
karena udara yang sangat dingin. Kristal es bersifat memantulkan semua cahaya yang datang.
Akibatnya awan ini tampak putih dan tipis. Awan yang letaknya antara 2.000 ‐ 6.000 m terdiri
atas campuran butiran air yang kecil dan kristal es. Butiran‐butiran ini menyebabkan awan
terlihat lebih tebal dan putih.
Pada awan hujan terdapat banyak tetes air yang agak besar ukurannya. Tetes air yang cukup
besar ini bersifat menyerap sinar Matahari yang datang. Jadilah awan ini kelihatan hitam.
Semoga jawaban ini memuaskan.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
MONDAR‐MANDIR DI PERUT BUMI
Tanya: Yang terhormat Prof. Yohannes Surya. Saya sangat tertarik dengan rubrik "Fenomena"
yang Anda asuh. Melalui surat ini saya menyampaikan beberapa pertanyaan. Saya sangat
berharap dijawab dengan konsep fisika yang benar.
Pertanyaan saya: jika seseorang menggali sumur hingga tembus bagian Bumi di sisi yang lain,
misal menggali di Kutub Utara sampai tembus ke Kutub Selatan, apa yang terjadi ketika ia
tercebur ke dalam sumur itu? Apakah ia terjebak di perut Bumi atau akan melayang hingga
tembus di sisi yang lain? Berapakah nilai/besar gaya gravitasi yang dialaminya?
Atas jawaban yang diberikan saya mengucapkan terima kasih. (Dwi Adi Purnomo, melalui
surat elektronik)
Jawab: Terima kasih sebelumnya atas perhatiannya terhadap Rubrik "Fenomena". Meski dalam
kenyataannya susah sekali untuk membuat lubang yang menembus Bumi, namun saya
mencoba menjawab melalui konsep fisika yang benar.
Ketika seseorang tadi jatuh ke lubang dari Kutub Utara, gaya gravitasi akan menariknya ke arah
pusat Bumi. Makin lama gaya gravitasi yang menarik ini makin kecil dan akhirnya nol di pusat
Bumi. Berhubung masih memiliki kecepatan akibat tarikan gaya gravitasi tadi, ia akan bergerak
terus ke arah Kutub Selatan. Saat menjauh dari pusat Bumi, kembali gaya gravitasi akan
menariknya sehingga gerakan orang tadi jadi melambat. Akhirnya, ia akan berhenti di Kutub
Selatan.
Selanjutnya, seperti kejadian di awal tadi, gaya gravitasi akan menarik kembali ke Kutub Utara.
Demikian seterusnya orang ini akan bergerak bolak‐balik selamanya (dengan anggapan tidak
ada gesekan udara dan gesekan lain).
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
SAMA BUJURNYA, BEDA WAKTUNYA
Tanya: Langsung saja Pak. Pertanyaan saya kali ini tentang pembagian zona waktu di
Indonesia, yakni waktu Indonesia bagian barat, tengah, dan timur. Jika saya lihat di
peta, Kota Banjarmasin itu lebih barat dibandingkan dengan Surabaya, tetapi
Banjarmasin masuk waktu Indonesia tengah dan Surabaya masuk Indonesia barat.
Lihat peta kembali, Kuala Lumpur dan Singapura juga lebih barat daripada Jakarta,
namun kedua kota itu lebih cepat sejam dari Jakarta. Kenapa demikian?
Tidak lupa saya ucapkan terima kasih atas jawabannya. (Julius Ramadhan, di Depok)
Jawab: Waduh, main langsung saja. Saya pun ikut‐ikutan langsung jawab juga nih!
Sebelum abad ke‐19 tiap orang menentukan waktu sendiri. Mereka tentukan pukul
12.00 adalah ketika Matahari tepat di atas daerahnya. Namun, dengan berkembangnya
teknologi, orang berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Akibatnya,
setiap saat orang harus mencocokkan jam penunjuk waktunya. Kondisi ini membuat
tidak nyaman.
Tahun 1878 Sir Sanford Fleming mengusulkan suatu standar pembagian zona waktu.
Dunia dibagi dalam 24 zona waktu. Tiap bergerak 15 derajat Bujur Timur, waktu
bertambah satu jam. Dunia sepakat untuk menerima usulan ini, disertai dengan
modifikasi‐modifikasi tertentu. Cina, misalnya. Kalau mengikuti standar tadi, wilayah
Cina dibagi dalam lima zona waktu, tapi Cina memilih untuk punya satu zona waktu saja.
Begitu pula dengan Singapura yang memilih untuk satu jam lebih cepat dari WIB,
walaupun letaknya agak di sebelah barat. Jadi, penetapan zona waktu ini tidak
mengikat, yang penting kita semua sepakat. Kalau mau, Indonesia boleh‐boleh saja
membagi wilayahnya dalam satu zona waktu seperti Cina
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
BAGAIMANA MENGUKUR SUHU MATAHARI?
Tanya: Prof. Surya yang terhormat, menurut sebuah artikel di sebuah majalah yang saya baca,
temperatur permukaan Matahari kira‐kira 5.700oC. Sedangkan di bagian dalamnya mencapai
2.000.000o C.
Yang saya tanyakan, bagaimana cara mengukur temperatur Matahari? Adakah termometer
yang bisa mengukur panas hingga jutaan derajat Celcius?
Terima kasih dan sukses buat Prof. Surya. (Rini Puspitasari di Jakarta)
Jawab: Tentu saja tidak ada termometer khusus. Lagi pula siapa yang mau mengukurnya?
Namun bukan berarti kemudian temperatur Matahari tidak bisa diketahui lo. Ada beberapa
cara untuk mengukur suhu di permukaan matahari.
Pertama, dengan menganalisis spektrum cahaya yang dipancarkan oleh Matahari. Setiap benda
panas memancarkan cahaya yang tergantung suhunya. Benda yang memancarkan cahaya
merah lebih dingin dibanding dengan benda yang memancarkan cahaya kuning. Dari warnawarna
yang dipancarkan oleh matahari ini kita dapat memperkirakan suhu di permukaan
Matahari.
Cara kedua, dengan menganalisis atom‐atom yang ada di permukaan matahari memakai
spektrograf. Dari analisis ini dapat terkuak data‐data perubahan energi atom‐atom yang dapat
menunjukan berapa suhu di permukaan Matahari.
Yang terakhir, dengan mengukur radiasi panas Matahari di Bumi. Besarnya radiasi di Bumi
ditambah dengan data jarak Matahari ‐ Bumi, dapat memberi petunjuk pada kita berapa suhu
di permukaan Matahari.
Lalu, bagaimana cara mengetahui temperatur di bagian dalam Matahari? Ternyata, dengan
mengetahui suhu di permukaan Matahari, kita dapat mengukur besarnya tekanan di bagian
dalam Matahari. Dari tekanan inilah suhu di dalam Matahari bisa diperkirakan.
Semoga jawaban ini memperjelas pemahaman Rini terhadap artikel yang dibaca.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
GRAVITASI VS GAYA MAGNET
Tanya: Prof. Yohanes Surya yang terhormat, saya sangat tertarik dengan semua hal yang
berbau luar angkasa. Namun, yang ingin saya tanyakan berkaitan dengan gaya tarik magnet
dan Bumi. Apakah keduanya sama? Kenapa gaya tarik magnet hanya bisa berpengaruh
terhadap besi, sedangkan gaya tarik Bumi berpengaruh pada semua benda?
Atas jawaban yang diberikan, saya mengucapkan terima kasih. (Piter, di Tebingtinggi)
Jawab: Gaya tarik Bumi (sering disebut gravitasi Bumi) dan gaya tarik magnet adalah
dua gaya yang berbeda. Gravitasi Bumi disebabkan oleh massa Bumi, sedangkan gaya
tarik magnet disebabkan oleh magnet.
Magnet sendiri disebabkan oleh gerakan muatan listrik (seperti elektron, proton, dsb.)
yang bergerak. Gravitasi Bumi dapat menarik semua benda yang punya massa,
sedangkan gaya magnet hanya dapat menarik logam seperti besi, nikel, dan kobalt, atau
campuran dari logam‐logam ini. Di dalam besi, nikel, dan kobalt terdapat banyak sekali
magnet kecil yang disebut domain.
Domain ini arahnya acak sehingga dalam keadaan normal logam‐logam itu tidak
menunjukkan sifat magnet. Akan tetapi begitu sebuah magnet didekatkan pada logam,
domain‐domain itu menjadi teratur, menyebabkan logam bersifat magnet. Setelah
menjadi magnet, logam‐logam itu mudah ditarik oleh magnet lain.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
DARI MANA DATANGNYA SEMESTA?
Tanya: Prof. Yohannes Yth., setelah saya banyak membaca teori tentang terjadinya
alam semesta, maka dapat saya katakan, intinya adalah "Everything that has a
beginning has an end". Pertanyaan saya, apabila ada permulaan, dari mana datangnya
alam semesta ini? Lalu, apabila ada akhir, ke mana perginya alam semesta ini nantinya?
Demikian pertanyaan saya. Thank's, Gott Segnen Sie. (Dr.rer.nat., CSc, Immanuel
Situmorang, M.D., di Bandung)
Jawab: Ada banyak teori tentang alam semesta ini. Yang saat ini banyak diterima para
fisikawan adalah alam semesta itu berasal dari suatu dentuman besar (big bang). Dari
dentuman ini terciptalah ruang dan waktu. Dari mana dentuman besar itu berasal? Ini
pertanyaan filosofis.
Jawabannya tergantung pada kepercayaan kita masing‐masing. Ada yang percaya Tuhan
atau suatu makhluk pintar yang membuat ini, ada pula yang percaya itu terjadi dengan
sendirinya melalui proses siklus alam semesta. Saya katakan “kepercayaan” karena kita
tidak akan pernah dapat membuktikan secara ilmiah jawaban ini.
Ke mana akhirnya alam semesta ini? Kembali lagi kepada kepercayaan kita. Ada yang
percaya bahwa langit dan Bumi akan lenyap digantikan dengan langit dan Bumi baru.
Ada juga yang percaya alam semesta ini akan lenyap selamanya. Atau ada juga yang
percaya terjadi siklus alam semesta.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
BUMI BIKIN MATI MUDA
Tanya: Kita sebagai manusia yang hidup dan menetap di Bumi selalu mengikuti
bertambahnya hari, bulan, dan tahun sejalan dengan perputaran Bumi pada porosnya
(rotasi Bumi).
Jika kita hidup di salah satu planet yang kala rotasinya lebih lama daripada kala rotasi di
Bumi, apakah umur kita jauh lebih muda dari mereka yang tinggal di Bumi?
Terima kasih atas jawabannya. (Drs. A. Nugroho Budi R., di Tangerang.)
Jawab: Menurut teori relativistik, ketika kita bergerak lebih cepat, maka terjadi proses
time dilation (pemuluran waktu). Proses metabolisme dalam tubuh kita akan
berlangsung lebih lambat sehingga kita akan tampak lebih muda. Namun, seberapa
cepat itu? Mengacu ke teori tadi, efek ini akan terasa jika kita bergerak sangat cepat,
misalnya 1/10 kali kecepatan cahaya.
Persoalannya, ketika Bumi kita bergerak sangat cepat maka kehidupan di Bumi akan
terganggu dan punah. Akan terjadi angin dan badai yang luar biasa besar, perubahan
siang dan malam sangat cepat, gas‐gas termasuk oksigen akan terlempar keluar Bumi,
tidak akan ada lagi atmosfer Bumi, suhu Bumi bisa menjadi sangat panas atau sangat
dingin sehingga tidak cocok untuk kehidupan lagi.
Jadi, bukannya awet muda, tapi mati muda!
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
WARNA MATAHARI BERUBAH‐UBAH
Tanya: Prof. Surya, saya punya pertanyaan soal Matahari. Pada pagi hari, Matahari
bisa kita lihat jelas bundarnya dan berwarna kemerah‐merahan/jingga (bisa
menyehatkan). Lalu, pada siang hari kita tidak bisa melihatnya dan warnanya putih
menyilaukan. Lain lagi kala sore hari, warnanya berubah kekuning‐kuningan dan bila
melihatnya terasa pening di kepala (bisa menyebabkan sakit mata). Mengapa ya?
Terima Kasih. (Metta Surya, di Semarang)
Jawab: Sebelum menjawab, mari kita lakukan percobaan sederhana. Percobaan
pertama, sorotkan cahaya lampu baterai pada kertas secara tegak lurus. Yang kedua,
sorotkan cahayanya tapi dengan posisi miring. Akan terlihat bahwa pada percobaan
pertama cahaya tampak lebih terang. Penyebabnya, pada percobaan pertama cahaya
terfokus pada daerah yang lebih kecil dibandingkan pada percobaan kedua.
Demikian juga Matahari. Pada siang hari cahaya Matahari tepat di kepala kita.
Cahayanya mengenai daerah yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan daerah yang
ditimpa oleh cahaya yang datang miring pada pagi hari. Akibatnya, pada siang hari
cahaya Matahari tampak lebih menyilaukan.
Warna merah pada pagi hari dan kuning keperakan pada sore hari disebabkan proses
hamburan cahaya oleh partikel‐partikel di atmosfer kita. Di Bulan, yang tidak ada
atmosfernya, Matahari tidak terlihat merah atau kuning.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
______________BULAN DI SIANG HARI
Tanya: Saya menyukai rubrik "Fenomena" yang Prof. Yohanes asuh. Dari membaca tanyajawabnya
saya jadi tahu berbagai hal. Karena manfaat itu saya ikut berpartisipasi "meramaikan"
rubrik ini. Pertanyaan saya berkaitan dengan bidang astronomi.
Pada akhir tahun 2003 lalu, pada siang hari, pukul 13.00, saya melihat Bulan tepat di
atas kepala saya dan bentuknya bulat penuh. Apakah mungkin di negara kita yang
terletak di bagian selatan katulistiwa, orang bisa melihat Bulan di siang hari? Apakah ini
hanya tipuan alam? Mohon penjelasan. (Ismawati, di Semarang)
Jawab: Wah, karena Anda ikut menyampaikan pertanyaan, rubrik ini memang
bertambah "ramai", setidaknya pertanyaannya bertambah satu lagi. Supaya pembaca
lain juga tahu duduk perkara atas hal yang Anda tanyakan, saya akan menjawabnya.
Bulan terlihat bersinar dari Bumi lantaran ia mendapat cahaya dari Matahari. Cahaya ini
kemudian dipantulkan Bulan ke berbagai arah. Ketika cahaya pantul ini mengenai mata
kita (bahkan pada siang hari), kita dapat melihat Bulan. Cahayanya yang tiba di mata kita
lebih redup dibandingkan dengan cahaya Matahari. Namun, cukup untuk menerangi
malam hari.
Pada waktu‐waktu tertentu kita juga bisa melihat Bulan di siang hari. Untuk melihat
satelit Bumi pada siang hari itu, kita harus mengarahkan mata pada cahaya pantul ini.
Karena terik Matahari pada siang hari, Bulan lebih mudah terlihat ketika besarnya lebih
dari setengah. Jadi, apa yang Anda lihat itu bukan tipuan alam. Itu Bulan beneran.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
BERKURANGKAH BERAT BUMI?
Tanya: Prof. Yo yang saya kagumi. Saya sering ditanya murid saya tentang berat Bumi. Apakah
dalam perjalanan waktu berat Bumi akan bertambah atau justru berkurang? Pertanyaan ini
timbul karena dari dalam Bumi diambil atau ditambang minyak bumi dan batu bara berjutajuta
ton, lalu dibakar habis. Ruangan bekas minyak bumi dan batu bara yang ditinggalkan
diganti apa? Selain itu tanah pertanian menghasilkan jutaan ton hasil pertanian lalu dimakan
habis. Kalau Bumi kita bertambah ringan, berapa juta ton per hari hilangnya?
Terima kasih atas jawabannya ya, Prof. (Barli, di Garut)
Jawab: Lagi‐lagi saya harus menyampaikan terima kasih atas kekaguman Anda. Sdr. Barli, saya
akan jelaskan soal berat Bumi yang menjadi pertanyaan Anda.
Ketika bahan‐bahan tambang seperti minyak, batubara dibakar, akan dihasilkan gas‐gas yang
cukup berat, misalnya uap air dan karbondioksida. Gas‐gas ini masih tertahan oleh gravitasi
Bumi, sehingga tidak lenyap ke luar angkasa. Gas‐gas ini akan dimanfaatkan melalui bermacam
proses daur ulang antara lain pernapasan tumbuhan, hujan, dsb. Proses daur ulang ini
mempertahankan berat Bumi. Memang ada gas‐gas lain yang lebih ringan akan terlempar ke
luar angkasa, namun kita juga harus ingat ada debu‐debu luar angkasa yang masuk ke Bumi
setiap harinya. Total jenderal berat Bumi kita tidak berubah banyak.
Jika tidak ada proses daur ulang, kehilangan material akibat penggalian tambang pun tidak
berpengaruh banyak terhadap berat Bumi. Jari‐jari Bumi kita sekitar 6.400 km. Kalau kita buang
kulit Bumi setebal 100 m saja, berat Bumi hanya akan berkurang sekitar 0,005%. Jadi, angka
penurunan itu kurang berarti.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
MENGAPA AWAN BERGUMPAL?
Tanya: Prof. Yohanes, saya memiliki kekaguman sekaligus ketidaktahuan. Setiap kali melihat
langit, saya menemukan awan dengan bermacam bentuk dan warna. Keindahan awan‐awan
itu mengagumkan. Pada beberapa awan, bentuk bagian bawahnya relatif rata sementara
bagian atasnya bergumpal‐gumpal. Nah, mengapa bisa terjadi seperti itu?
Satu lagi, sebenarnya awan itu terbentuk dari apa dan bagaimana proses terjadinya? Terima
kasih. (Wibowo, di Yogyakarta)
Jawab: Awan sebenarnya uap air yang mengembun menjadi titik‐titik air. Bentuk awan sangat
tergantung pada bagaimana ia terbentuk. Ada awan berbentuk agak datar (awan stratus). Awan
ini terbentuk oleh udara yang naik dari kaki bukit atau gunung secara perlahan. Sisi awan
biasanya agak kabur. Awan ini kadang bisa berbentuk oval karena pengaruh angin ketika awan
naik.
Pada saat udara naik agak cepat, terbentuklah awan bergumpal‐gumpal (awan kumulus). Akibat
cepatnya udara naik, sisi awan ini agak tajam (tidak kabur). Awan kumulus bisa menyerupai
berbagai benda, hewan, wajah orang dsb.
Proses terjadinya awan dimulai dari uap air yang naik ke atas. Makin ke atas, suhu makin
rendah. Rendahnya suhu menyebabkan udara (uap air) mengalami proses pendinginan.
Hasilnya berupa tetes‐tetes air dan juga kristal‐kristal es yang membentuk awan‐awan dengan
berbagai bentuk.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
GEMPA DI PLANET SELAIN BUMI
Tanya: Prof. Yohanes Yth., Apa kabar? Saya langsung saja bertanya. Saya sedikit
penasaran dengan segala fenomena yang terjadi belakangan ini di Indonesia. Terutama
yang berkaitan dengan gempa dan tsunami di Yogyakarta dan Pangandaran. Saya ingin
menanyakan, apakah gempa mungkin terjadi juga di satelit Bumi, Bulan, atau di planetplanet
lain?
Terima kasih Prof. Yo atas kesediaan menjawab pertanyaan yang aneh ini. (Rika, di
Bandung)
Jawab: Sdr. Rika, pertanyaan Anda mungkin juga menjadi pertanyaan banyak orang.
Jadi, itu pertanyaan logis.Bumi kita berlapis‐lapis. Lapisan teratas dinamakan kerak
bumi. Tebal lapisan ini sekitar 80 km. Lapisan berikutnya adalah lapisan selubung yang
kondisinya agak lunak. Makin ke dalam, suhu lapisan selubung makin tinggi dan
bobotnya makin ringan. Karena bagian itu lebih ringan, maka lapisan ini cenderung naik
ke atas. Ini menyebabkan terbentuknya semacam arus konveksi.
Lapisan kerak bumi tersebar di permukaan Bumi dalam bentuk lempeng‐lempeng.
Mereka terapung di atas lapisan selubung. Adanya arus konveksi di lapisan selubung
menyebabkan lapisan kerak bumi senantiasa bergerak. Ketika lempeng‐lempeng ini
bergesekan, maka terjadilah gempa bumi.
Gempa bumi bisa juga terjadi jika batu‐batu yang tertekan di antara kedua lempeng itu
melepaskan diri dari tekanan. Atau bisa juga terjadi akibat gerakan magma di sebuah
gunung berapi.
Di Bulan bisa juga terjadi gempa. Namun, penyebabnya sedikit berbeda dari gempa di
Bumi. Di Bulan gempa bisa diakibatkan oleh gaya tarik Bumi, tumbukan dengan
meteorit, atau efek pemuaian dari materi Bulan ketika bagian Bulan yang selama dua
minggu dalam kegelapan dan dingin terkena sinar Matahari yang panas.
Gempa di Bumi berlangsung hanya sekitar 30 detik sedangkan di Bulan bisa berlangsung
lama. Hal ini terjadi karena di Bumi terdapat air yang dapat meredam gelombang
gempa. Sementara di Bulan tidak ada bahan yang mampu meredam gempa.
Seperti di Bulan, di planet‐planet pun dapat terjadi gempa. Di planet Mars misalnya.
NASA baru‐baru ini mendeteksi adanya gempa di Planet Merah itu. Namun, penyebab
utama gempa di planet‐planet masih belum diketahui secara lebih detail.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
RUANG HAMPA UDARA DI BUMI
Tanya: Prof. Yohanes Yth., seperti kita ketahui, pelajaran tentang ruang hampa udara dan
ruang berisi kandungan zat‐zat udara sudah pernah diajarkan di sekolah. Saya tahu, ruang
hampa udara itu ada di luar angkasa, sedangkan di Bumi atau planet‐planet lain tidak mungkin
ada ruang hampa udara.
Namun, yang membuat saya heran baru‐baru ini adalah berita di salah satu media massa
nasional yang menuliskan tentang terjadinya "kecelakaan" pesawat Garuda Indonesia ketika
bertolak ke Jepang. Di atas ketinggian 41.000 kaki menuju Jepang sempat terjadi guncangan
pesawat karena melewati ruang hampa udara. Dalam peristiwa itu beberapa penumpang
pesawat mengalami luka‐luka ringan. Dikatakan pula, sang pilot sudah mencoba untuk
menghindar, namun tetap masuk ke ruang hampa itu karena sulit (mungkin juga tidak)
terdeteksi radar.
Yang membuat saya bingung, bagaimana bisa ada ruang hampa di atas Bumi? Apakah ini bisa
terjadi juga di darat? Apakah ini ada hubungannya dengan ketinggian atau faktor‐faktor lain
dan apa efeknya? Benarkah ruang hampa udara itu tidak bisa dideteksi oleh radar?
Terima kasih. (Thua Stevenson, Yogyakarta)
Jawab: Udara di atmosfer kita terdiri atas campuran berbagai gas yang jaraknya saling
berjauhan. Ruangan di antara gas‐gas ini dapat diisi uap air. Ketika uap air ini
mengembun, maka ruangan yang diisi uap air akan menjadi hampa. Ruang hampa ini
tidak bisa terdeteksi radar karena tidak ada partikel yang dapat memantulkan
gelombang yang dipancarkan radar itu. Inilah yang menyebabkan pesawat celaka.
Ruang hampa bisa terjadi di darat bahkan kita bisa membuat ruang hampa, yaitu
dengan cara mengisap udara suatu ruang menggunakan pompa isap. Walaupun begitu,
kita tidak bisa membuat ruang yang benar‐benar hampa udara. Ruang hampa yang
paling hampa yang berhasil dibuat manusia saat ini masih mengandung sekitar 10 juta
partikel udara setiap liternya.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
MAGMA TETAP CAIR DI PERUT BUMI
Tanya: Yang terhormat Prof. Yohanes Surya. Melalui rubrik ini, saya menyampaikan beberapa
pertanyaan yang timbul saat saya menyaksikan acara televisi tentang gunung berapi.
Saat gunung meletus, salah satu akibatnya adalah keluarnya cairan lava yang berpijar
yang temperaturnya sangat tinggi. Pertanyaan saya, apa yang menyebabkan cairan
lava/magma itu terus berpijar dengan suhu yang tinggi pada saat masih di dalam Bumi?
Kalau bisa saya analogikan, magma itu serupa dengan logam yang cair pada suhu
tinggi, dan menjadi keras pada suhu normal. Jika demikian, energi apa yang bisa
membuat magma itu bisa selalu dalam bentuk cair pada saat di dalam Bumi selama
jutaan tahun?
Atas jawaban yang diberikan saya ucapkan terima kasih. (Waskito Wibowo, di Kupang)
Jawab: Bumi kita berbentuk bulat. Makin ke dalam tekanan dan suhu makin tinggi. Pada
suhu yang tinggi itu material‐material akan meleleh sehingga material di bagian dalam
Bumi berbentuk cair. Suhu tinggi ini yang mempertahankan cairan akan terus berbentuk
cair hingga jutaan tahun.
Ketika ada lubang keluar, cairan ini keluar berbentuk lava cair. Ketika lava mencapai
permukaan Bumi, suhu menjadi lebih dingin (dari ribuan derajat menjadi hanya sekitar
30 derajat). Pada suhu ini cairan lava akan membeku membentuk batuan beku.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
PAGI SUDAH TERANG
Tanya: Prof. Yohanes yang pintar dan baik hati, to the point saja ya Prof. Saat musim hujan
saya merasakan fenomena alam ini. Pada pagi hari (sekitar pukul 05.00) keadaan alam ini
sudah terang benderang. Sedangkan pada musim kemarau lingkungan saya baru tampak
terang setelah pukul 05.30. Mengapa ya Prof. hal ini terjadi?
Sekian pertanyaan saya. Saya menghaturkan banyak terima kasih atas jawabannya. Semoga
Tuhan memberkati Prof. sekeluarga. (Suwita Budy Setyanegara, di Nganjuk)
Jawab: Sdr. Suwita, faktor yang paling berpengaruh pada panjang siang dan panjang malam di
bumi adalah kemiringan sumbu rotasi bumi sebesar 23,5 derajat terhadap sumbu revolusinya.
Akibat kemiringan itu, kutub utara akan mengalami enam bulan tanpa sinar Matahari (enam
bulan gelap terus, Matahari tidak terbit) dan enam bulan terang terus. Hal yang sama terjadi
juga di kutub selatan. Untuk daerah yang agak ke utara seperti Islandia, ketika membawa tim
Indonesia ikut olimpiade fisika ke‐29, saya menyaksikan siang berlangsung selama 22 jam.
Matahari baru tenggelam sekitar pukul 02.00 dan terbit lagi sekitar pukul 04.00. Menurut
teman saya yang tinggal di sana, di bulan Januari terjadi kebalikannya yaitu hampir gelap terus,
terangnya mungkin hanya sekitar dua jam tiap harinya.
Islandia tentu berbeda dengan Indonesia yang terletak di ekuator. Beberapa daerah terletak
agak ke selatan. Untuk daerah‐daerah ini, akan ada perbedaan panjang siang dan malam sekitar
30 menit. Pada waktu‐waktu tertentu di daerah ini Matahari bisa terbit lebih cepat (panjang
siang lebih banyak), pukul 05.00 Matahari sudah terbit. Atau bisa juga terbit lebih lambat
(panjang siang lebih sedikit).
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
MENGIKUTI ARAH MATAHARI
Tanya: Prof. Yohanes Yth. Apa kabar? Di benak saya sudah lama timbul pertanyaan berkaitan
dengan fenomena alam ini. Tanya ke sana kemari, belum juga saya mendapatkan jawaban
yang pasti. Pertanyaan saya itu berkaitan dengan kehidupan bunga matahari. Kalau saya
amati, bunga matahari kalau pagi menghadap ke Timur, sedangkan pada sore hari berubah
menghadap ke Barat, seakan mengikuti gerak Matahari. Mengapa hal itu terjadi? Apakah
karena gerakannya mengikuti Matahari maka tanaman bunga tersebut dinamakan bunga
matahari?
Atas jawaban Prof., saya ucapkan terima kasih. (J.F.X. Hoery, di Bojonegoro)
Jawab: Kabar saya baik Sdr. Hoery. Saya akan jelaskan fenomena yang Anda tanyakan.
Begini. Setiap komponen makhluk hidup telah didesain untuk mengatur dan melepaskan diri
dari kondisi‐kondisi yang mengancam kehidupan. Ketika belum mekar, bunga matahari
membutuhkan sinar Matahari yang langsung mengenai bagian‐bagian tertentu, karena itu di bagian bawah bunga ada sel‐sel yang berfungsi sebagai motor untuk memutar calon bunga ini ke arah Matahari. Ketika bunga mekar, bunga tidak perlu lagi menghadap Matahari, dan sel‐sel yang semula berfungsi sebagai motor akan mengeras, tidak fleksibel lagi untuk memutar bunga.
Itu sebabnya ketika sudah mekar, bunga matahari tidak berputar lagi.